Senator Mirah: Tenun Bima Harus Naik Kelas, dari Warisan Budaya Menjadi Produk Ekonomi Kreatif Berdaya Saing

POLITITUDE – Senator DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah, menilai pengembangan Tenun Bima harus dilakukan secara lebih komprehensif agar tidak berhenti sebagai produk pelestarian budaya, tetapi mampu tumbuh menjadi komoditas ekonomi kreatif yang memiliki daya saing di pasar nasional hingga global.

Potensi ekonomi Tenun Bima terlihat dalam penyelenggaraan Festival Rimpu Mantika 2026. Penggunaan kain tenun khas Bima selama festival tercatat mencapai 126.500 lembar, sementara transaksi pada bazar ekonomi kreatif dan UMKM mencapai sekitar Rp581 juta. Capaian tersebut menunjukkan bahwa penguatan identitas budaya dapat menciptakan pasar sekaligus menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat.

Menurut Mirah, kekayaan nilai budaya dan sejarah yang melekat pada Tenun Bima merupakan modal penting. Namun, kekuatan tersebut perlu dibarengi dengan inovasi agar tenun lokal mampu menjawab perubahan selera konsumen dan tuntutan pasar yang semakin kompetitif.



“Tenun Bima memiliki identitas budaya yang sangat kuat. Tetapi kita tidak boleh berhenti pada kebanggaan terhadap nilai budayanya saja. Identitas itu harus diterjemahkan menjadi desain, produk, dan merek yang mampu memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” ujar Mirah.

Ia menilai persoalan yang dihadapi para perajin saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan produksi, tetapi juga mencakup desain, diversifikasi produk, branding, kemasan, legalitas usaha, standardisasi mutu, hingga pemasaran.

Karena itu, Mirah mendorong agar pendampingan terhadap perajin Tenun Bima dilakukan secara berkelanjutan dan tidak sebatas pelatihan teknis. Pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan terkait perlu membantu perajin dari hulu hingga hilir, mulai dari penguatan kapasitas produksi, pengembangan desain, pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), perlindungan merek, hingga pembukaan akses pasar.



“Kalau kita ingin Tenun Bima masuk ke pasar yang lebih luas, maka seluruh ekosistemnya harus diperkuat. Perajin jangan dibiarkan berjalan sendiri. Mereka membutuhkan akses terhadap pengetahuan, pembiayaan, legalitas, desain, kemasan, promosi, dan pasar,” katanya.

Mirah juga menekankan pentingnya inovasi tanpa menghilangkan karakter asli Tenun Bima. Menurutnya, modernisasi produk tidak berarti menghapus identitas tradisional. Justru, motif, filosofi, dan cerita yang terkandung dalam tenun dapat menjadi kekuatan pembeda ketika dikemas secara kreatif.

“Jangan sampai ketika kita melakukan inovasi, identitas lokalnya justru hilang. Yang perlu dilakukan adalah mengemas nilai tradisi dengan pendekatan yang lebih modern sehingga dapat diterima generasi muda dan konsumen di luar daerah,” jelasnya.



Selain itu, Mirah mendorong penguatan pemasaran digital sebagai bagian dari strategi memperluas pasar. Platform digital dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan cerita di balik setiap motif, memperkuat citra produk, sekaligus mempertemukan perajin dengan konsumen tanpa dibatasi jarak geografis.

Ia berharap Tenun Bima dapat menjadi salah satu contoh bagaimana pelestarian budaya berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pengembangan tersebut juga dinilai berpotensi membuka lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan perajin dan pelaku UMKM pendukung.

“Tenun Bima bukan sekadar kain. Di dalamnya ada sejarah, identitas, keterampilan, dan kehidupan masyarakat. Karena itu, tugas kita bukan hanya menjaga agar tradisi ini tetap hidup, tetapi memastikan para perajinnya juga dapat hidup sejahtera dari karya tersebut,” pungkas Mirah.



Rekomendasi Kebijakan

1. Mengembangkan pendampingan usaha yang berkelanjutan. Pendampingan dapat mencakup pengelolaan usaha, legalitas, pembiayaan, pengembangan produk, dan pemasaran, dengan memperhatikan kebutuhan dan skala usaha masing-masing perajin.
2. Memperkuat kualitas tanpa menghilangkan identitas tenun. Penyusunan standar mutu dan pengembangan desain dapat dilakukan bersama perajin agar kualitas produk semakin konsisten, sementara motif, filosofi, dan teknik tradisionalnya tetap terjaga.
3. Memperluas diversifikasi dan penggunaan Tenun Bima. Tenun dapat dikembangkan menjadi produk fesyen, aksesori, dekorasi, suvenir, dan kebutuhan usaha pariwisata sehingga permintaannya tidak hanya bergantung pada penjualan kain atau kegiatan festival.
4. Menghubungkan promosi budaya dengan akses pasar. Festival, pemasaran digital, sektor pariwisata, dan kemitraan usaha dapat menjadi jalur pemasaran yang saling melengkapi agar Tenun Bima menjangkau konsumen secara lebih luas dan berkelanjutan.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top