Senator Mirah Apresiasi Penguatan UMKM Mataram: Digital Marketing dan Bros Tembolak Jadi Jalan Naik Kelas

POLITITUDE – Upaya Pemerintah Kota Mataram dalam mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) naik kelas melalui pelatihan digital marketing dan desain kerajinan mutiara mendapat apresiasi dari Senator DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah. Menurutnya, penguatan kapasitas pelaku UMKM harus menjadi bagian penting dari strategi pembangunan ekonomi daerah, terutama dengan memadukan inovasi produk, teknologi digital, dan kekayaan budaya lokal.

Penguatan UMKM menjadi semakin penting karena Kota Mataram memiliki sedikitnya 26.164 unit UMKM. Pada saat yang sama, ekonomi Kota Mataram tumbuh 5,43 persen pada 2025, meningkat dari 4,12 persen pada 2024. Besarnya basis usaha tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas UMKM dapat memberikan dampak yang luas terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di daerah.

Senator Mirah menilai pelatihan yang diikuti 60 peserta, terdiri atas 35 peserta desain kerajinan mutiara dan 25 peserta digital marketing, merupakan langkah positif untuk menjawab tantangan UMKM di tengah persaingan pasar yang semakin terbuka. Pelaku usaha tidak cukup hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga perlu memiliki kemampuan membangun merek, membuat konten, memanfaatkan marketplace, serta menjangkau konsumen secara lebih luas.



“UMKM kita harus naik kelas. Produk yang bagus harus dibarengi dengan kemampuan memasarkannya. Digital marketing membuka kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk tidak hanya menjual produknya di Mataram atau NTB, tetapi juga menembus pasar nasional bahkan internasional,” ujar Mirah.

Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan bros bermotif Tembolak sebagai produk kriya khas Kota Mataram. Menurutnya, langkah untuk mendaftarkan produk tersebut sebagai kekayaan intelektual perlu didukung karena menyangkut identitas, perlindungan, sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat.

“Bros Tembolak bukan sekadar kerajinan. Di dalamnya ada identitas budaya dan karakter Kota Mataram. Ketika dikembangkan dengan desain yang menarik, kualitas yang baik, serta dilindungi melalui hak kekayaan intelektual, produk ini dapat menjadi ikon ekonomi kreatif yang memiliki nilai jual tinggi,” katanya.



Mirah menilai potensi mutiara NTB juga perlu terus dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Mutiara tidak seharusnya hanya dipandang sebagai komoditas atau bahan perhiasan, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kriya yang memiliki cerita, desain, dan identitas daerah.

Karena itu, ia mendorong adanya kesinambungan antara pelatihan, pendampingan, akses permodalan, penguatan produksi, hingga pemasaran. Menurutnya, pelatihan akan memberikan dampak lebih besar apabila peserta memperoleh pendampingan setelah kegiatan selesai.

“Jangan sampai pelatihan berhenti pada kegiatan dan sertifikat. Yang lebih penting adalah bagaimana setelah pelatihan mereka benar-benar mampu menghasilkan produk, membangun pasar, meningkatkan omzet, dan menciptakan lapangan kerja,” tegas Mirah.



Terkait kendala pengemasan produk, Mirah mendorong pemerintah daerah memperkuat dukungan terhadap fasilitas produksi dan pengemasan. Kemasan yang menarik, menurutnya, menjadi bagian penting dalam membangun persepsi kualitas sekaligus meningkatkan daya saing produk UMKM.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perajin, pelaku UMKM, komunitas, perguruan tinggi, perbankan, serta dunia usaha. Kolaborasi tersebut diperlukan agar pengembangan produk kriya dan UMKM Mataram berjalan secara berkelanjutan.

“Kalau semua bergerak bersama, kita tidak hanya menciptakan produk UMKM yang laku di pasar, tetapi juga membangun identitas ekonomi kreatif Mataram. Bros Tembolak bisa menjadi contoh bahwa budaya lokal dapat diolah menjadi produk modern, bernilai ekonomi, dan membanggakan daerah,” tutup Senator Mirah.



Rekomendasi Kebijakan 
1. Memperkuat pendampingan setelah pelatihan. Pelatihan dapat dilanjutkan dengan pendampingan usaha yang membantu peserta menerapkan keterampilan, memperbaiki produk, membangun kanal pemasaran, dan memantau perkembangan omzet.
2. Memperluas akses terhadap fasilitas produksi dan pengemasan. Pengembangan fasilitas bersama dapat membantu UMKM meningkatkan kualitas dan konsistensi produk tanpa harus menanggung seluruh biaya peralatan secara mandiri.
3. Menghubungkan perlindungan kekayaan intelektual dengan pengembangan pasar. Pendaftaran Bros Tembolak sebagai kekayaan intelektual dapat dilengkapi dengan penguatan standar desain, identitas produk, dan strategi komersialisasi agar manfaat ekonominya dirasakan oleh perajin lokal.
4. Membangun ekosistem pemasaran yang lebih terhubung. Kolaborasi dengan marketplace, sektor pariwisata, perhotelan, perbankan, dan dunia usaha dapat membuka pasar yang lebih luas bagi produk kriya dan mutiara Mataram.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top