POLITITUDE – Keberhasilan Ketak menembus pasar internasional menjadi bukti bahwa produk kerajinan lokal Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki daya saing dan potensi besar untuk berkembang di pasar global. Anggota DPD RI asal NTB, Mirah Midadan Fahmid, menilai perjalanan Ketak menunjukkan bahwa produk lokal dapat memperluas pasar ketika kualitas produk berjalan beriringan dengan kemampuan membangun jejaring, memanfaatkan kanal digital, dan memenuhi kebutuhan pasar.
“Ini adalah contoh nyata bahwa produk lokal NTB tidak kalah bersaing ketika memiliki kualitas, konsistensi, dan kemampuan membaca peluang pasar. Yang menarik, pintu awal menuju pasar internasional justru terbuka melalui Facebook. Artinya, ruang digital harus kita manfaatkan sebagai bagian dari strategi memperluas pasar UMKM,” ujar Mirah.
Sebelum menjangkau pembeli internasional, Ketak terlebih dahulu mengembangkan pasar di Lombok, Jawa, Jakarta, dan Bali. Proses tersebut menunjukkan bahwa ekspansi pasar UMKM umumnya berlangsung secara bertahap, seiring dengan peningkatan kapasitas produksi dan kemampuan memenuhi permintaan yang semakin luas.
Mirah menilai pengalaman tersebut penting karena tantangan UMKM tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk yang baik. Ketika pasar mulai berkembang, pelaku usaha juga berhadapan dengan kebutuhan menjaga kualitas dan kontinuitas produksi, memenuhi standardisasi dan legalitas, memperkuat kemasan dan komunikasi produk, hingga mengelola hubungan dengan pembeli.
“Cerita Ketak ini mengajarkan bahwa akses pasar bisa datang dari berbagai arah. Media Sosial, pameran, jejaring bisnis, maupun fasilitasi pemerintah semuanya dapat menjadi pintu masuk. Karena itu, yang perlu dibangun bukan hanya kemampuan UMKM untuk memproduksi, tetapi juga kapasitas mereka untuk menemukan pasar, membangun kepercayaan dengan pembeli, dan menjaga pasar tersebut dalam jangka panjang,” katanya.
Dalam konteks NTB, Mirah melihat terdapat empat ruang yang dapat semakin diperkuat untuk mendorong lebih banyak produk lokal naik kelas. Pertama, pendampingan dapat semakin disesuaikan dengan tingkat kesiapan usaha, mulai dari peningkatan kualitas dan standardisasi hingga kesiapan memenuhi pesanan ekspor.
Kedua, pemanfaatan kanal digital dapat dihubungkan lebih erat dengan business matching, informasi pasar, dan jejaring pembeli sehingga digitalisasi tidak berhenti pada promosi. Ketiga, penguatan kapasitas produksi dan ekosistem pemasok lokal dapat membantu UMKM menjaga kualitas dan kontinuitas ketika permintaan meningkat. Keempat, akses pembiayaan dapat semakin mempertimbangkan kebutuhan modal kerja dan siklus pesanan pelaku usaha yang mulai memasuki pasar yang lebih besar.
Menurut Mirah, pendekatan tersebut penting karena kebutuhan setiap UMKM berbeda. Pelaku usaha yang baru mengembangkan pasar lokal tidak selalu membutuhkan bentuk dukungan yang sama dengan usaha yang telah menerima permintaan dari pembeli luar negeri. Dengan pemetaan yang lebih baik, dukungan pemerintah, lembaga pembiayaan, platform digital, dan jejaring perdagangan dapat bertemu pada kebutuhan usaha yang lebih spesifik.
“Jangan sampai kita hanya bangga ketika produk sudah berhasil diekspor. Yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman seperti Ketak dapat membuka jalan bagi semakin banyak pelaku usaha NTB yang memiliki produk potensial untuk bertumbuh dan menemukan pasarnya,” tegas Mirah.
Ia menambahkan, keberhasilan ekspor juga perlu dilihat dari kemampuan usaha mempertahankan pasar dan memperbesar manfaat ekonominya di daerah. Bagi produk kerajinan seperti anyaman ketak, peningkatan permintaan memiliki keterkaitan langsung dengan perajin, tenaga kerja, bahan baku, serta berbagai aktivitas ekonomi lokal yang berada di belakang produk akhir.
Karena itu, anyaman ketak tidak hanya memiliki nilai sebagai produk kerajinan dan identitas budaya Lombok, tetapi juga memiliki ruang untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih besar ketika terhubung dengan desain, pengembangan produk, pemasaran, dan pasar yang lebih luas.
“NTB punya banyak produk unggulan. Peluang berikutnya adalah bagaimana semakin banyak produk tersebut dapat membangun pasar yang berkelanjutan, meningkatkan nilai tambahnya, dan membawa manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat di daerah,” pungkasnya.***
