POLITITUDE – Senator DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah Midadan Fahmid, bersama Matahari Pagi Indonesia (MPI) NTB berkolaborasi dengan Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD Kabupaten Bima menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan di sejumlah wilayah Kabupaten Bima.
Penyaluran dilakukan selama dua hari, Sabtu–Minggu, 26–27 September 2026, dengan total 8 rit atau sekitar 40.000 liter air bersih. Bantuan tersebut menyasar 500 kepala keluarga atau sekitar 1.545 jiwa di Desa Waduwani, Desa Roka, Desa Nata, dan Desa Teke.
Pada Sabtu (26/9), sebanyak 10.000 liter air bersih disalurkan ke RT 001 dan RT 002 Desa Waduwani, Kecamatan Woha, untuk memenuhi kebutuhan 135 KK atau 427 jiwa. Bantuan kemudian dilanjutkan ke Dusun III Desa Roka, Kecamatan Belo, sebanyak 10.000 liter untuk 143 KK atau 436 jiwa.
Penyaluran berikutnya dilakukan di Desa Nata, Kecamatan Palibelo, dengan 10.000 liter air bersih untuk 147 KK atau 451 jiwa. Pada Minggu (27/9), bantuan kembali disalurkan sebanyak 10.000 liter ke Desa Teke, Kecamatan Palibelo, untuk memenuhi kebutuhan 75 KK atau 231 jiwa.
Mirah mengatakan, distribusi air bersih merupakan bentuk kepedulian sekaligus respons terhadap kebutuhan dasar masyarakat yang menghadapi keterbatasan sumber air selama musim kemarau.
“Air bersih adalah kebutuhan paling mendasar. Ketika masyarakat kesulitan mendapatkan air untuk minum, memasak, dan kebutuhan sehari-hari, maka kita tidak boleh menunggu terlalu lama. Kehadiran kita harus bisa memberikan manfaat yang langsung dirasakan masyarakat,” ujar Mirah.
Kondisi kekeringan di NTB memang menjadi perhatian. Stasiun Klimatologi NTB mencatat pada Dasarian II September 2026, sejumlah wilayah mengalami hari tanpa hujan dalam kategori sangat panjang hingga kekeringan ekstrem. Di Kabupaten Bima, Pos Hujan Bolo dan Belo tercatat mengalami 125 hari tanpa hujan, termasuk kategori kekeringan ekstrem.
Secara nasional, BMKG juga menyatakan bahwa fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat turut berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan. BMKG pada 22 September 2026 memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kemunduran dari rata-rata klimatologisnya.
Menurut Mirah, kondisi tersebut membutuhkan respons yang tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga strategi jangka menengah dan panjang untuk meningkatkan ketahanan air masyarakat.
“Bantuan air bersih ini adalah respons cepat. Tetapi kita juga harus memikirkan solusi permanen, mulai dari sumber air baku, embung, sumur, jaringan distribusi, sampai sistem penyediaan air yang mampu menghadapi musim kemarau panjang,” katanya.
Ia mengapresiasi kolaborasi TRC-PB BPBD Kabupaten Bima dan Matahari Pagi Indonesia NTB dalam memastikan bantuan dapat sampai langsung kepada masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, penanganan kekeringan membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, lembaga sosial, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.
Mirah juga meminta agar pemetaan wilayah rawan kekeringan terus diperkuat sehingga distribusi bantuan dapat dilakukan secara tepat sasaran dan berdasarkan tingkat kebutuhan masing-masing wilayah.
“Semangat gotong royong harus terus kita jaga. Air yang kita salurkan hari ini mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi keluarga yang sedang kesulitan air, bantuan ini sangat berarti. Kita ingin memastikan tidak ada masyarakat yang menghadapi kekeringan seorang diri,” tutur Mirah.
Ia berharap gerakan berbagi air bersih dapat terus dilanjutkan selama masyarakat masih menghadapi dampak kekeringan, sembari mendorong pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur air yang berkelanjutan di wilayah-wilayah rawan kekeringan di NTB. (ALF)***
