Senator Mirah: Penerbangan Tambahan Jelang MotoGP Harus Jadi Momentum Perluasan Dampak Ekonomi NTB

POLITITUDE – Anggota DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah Midadan Fahmid, menilai meningkatnya konektivitas udara menjelang penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 merupakan sinyal positif bagi perekonomian daerah. 

Hingga 16 September 2026, Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) telah menerima permintaan 66 penerbangan nonreguler, terdiri atas 48 extra flight, 11 charter flight, empat penerbangan dengan pesawat berkapasitas lebih besar, dan tiga positioning flight.

Menurut Mirah, penambahan penerbangan tersebut tidak semata-mata menunjukkan meningkatnya mobilitas penonton dan wisatawan, tetapi juga memperlihatkan semakin besarnya posisi Mandalika sebagai destinasi sport tourism yang memiliki efek terhadap berbagai sektor ekonomi di NTB.



“Penambahan 66 penerbangan ini tentu menjadi kabar baik bagi NTB. Namun, yang paling penting adalah bagaimana peningkatan arus orang tersebut diterjemahkan menjadi peningkatan transaksi ekonomi, pendapatan masyarakat, dan kesempatan usaha bagi pelaku UMKM lokal,” ujar Mirah.

Ia mengatakan, sektor penerbangan merupakan salah satu mata rantai awal dalam ekosistem pariwisata. Ketika jumlah penumpang meningkat, dampaknya dapat bergerak ke sektor transportasi darat, hotel, restoran, kuliner, perdagangan, ekonomi kreatif, hingga jasa pariwisata lainnya.

Data BIZAM juga menunjukkan pertumbuhan trafik yang cukup signifikan. Sepanjang Januari–Agustus 2026, bandara tersebut melayani sekitar 1,8 juta penumpang, meningkat 15,6 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Pergerakan pesawat juga mencapai 21.348, atau meningkat 28,6 persen.



“Angka ini memperlihatkan bahwa konektivitas udara memiliki peran penting dalam menopang aktivitas ekonomi NTB. Karena itu, kesiapan bandara harus berjalan beriringan dengan kesiapan destinasi dan pelaku usaha di daerah,” katanya.

Mirah menambahkan, pengalaman MotoGP 2025 menunjukkan besarnya potensi ekonomi dari penyelenggaraan event internasional tersebut. Pemerintah memperkirakan dampak ekonomi MotoGP Mandalika 2025 mencapai sekitar Rp4,96 triliun, yang berasal dari peningkatan aktivitas pariwisata, transportasi, akomodasi, perdagangan, dan berbagai kegiatan usaha masyarakat. Pada penyelenggaraan 2025, jumlah penonton mencapai 140.324 orang atau meningkat 15,7% dibandingkan 2024. Tingkat okupansi hotel juga mencapai 100% di kawasan Mandalika dan rata-rata 93% di Pulau Lombok.

Dampak tersebut juga mulai menjangkau ekonomi lokal, dengan lebih dari 600 UMKM terlibat dan lebih dari 3.000 tenaga kerja terserap selama penyelenggaraan MotoGP 2025, sekitar 67% di antaranya berasal dari Lombok Tengah.



Karena itu, ia mendorong agar MotoGP 2026 tidak hanya dipandang sebagai agenda olahraga, tetapi sebagai momentum untuk memperluas manfaat ekonomi hingga ke masyarakat di luar kawasan Mandalika.

“Jangan sampai wisatawan hanya datang ke sirkuit, kemudian pulang. Kita harus mendorong mereka menginap lebih lama, mengunjungi destinasi lain, menikmati kuliner lokal, membeli produk UMKM, dan menggunakan jasa masyarakat setempat,” tutur Mirah.

Ia juga mengapresiasi penataan terminal BIZAM yang mengangkat kearifan lokal NTB. Menurutnya, pengalaman wisatawan sejak pertama kali tiba di Lombok merupakan bagian dari strategi membangun citra daerah.



“Identitas budaya NTB harus menjadi bagian dari pengalaman wisatawan. MotoGP adalah panggung internasional, sehingga momentum ini harus sekaligus menjadi etalase bagi budaya, produk kreatif, kuliner, dan potensi ekonomi masyarakat NTB,” ujar Mirah.

Senator Mirah berharap seluruh pemangku kepentingan memperkuat koordinasi menjelang MotoGP 2026, mulai dari pemerintah, pengelola bandara, maskapai, pelaku pariwisata, UMKM, hingga masyarakat. Dengan demikian, peningkatan konektivitas dan kunjungan wisatawan dapat menghasilkan multiplier effect yang lebih luas dan berkelanjutan bagi perekonomian NTB.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top